Merisaukan Takdir

Jumat, 17 Februari 2017

kenapa terus risau dengan takdirNya jika hingga hari ini masih dapat bernapas
kenapa terus risau dengan takdirNya jika hingga hari ini masih dapat melihat
kenapa terus risau dengan takdirNya jika hingga hari ini masih dapat mendegar
lihatlah bagaimana malam berganti siang, siang berganti malam
hujan berganti panas, panas berganti hujan
tidak kah itu mudah bagiNya?
lalu kenapa harus risau dengan takdirNya?
bukankah semua berjalan dengan kehendakNya?
bukankah semua telah ditentukan dalam kitab Lauh Mahfudz?
lalu kenapa harus risau dengan takdirNya?

untuk kamu, kamu yang disana
kenapa terus risau memikirkan bagaimana dengan lelaki itu?
kenapa terus risau memikirkan bagaimana akhirnya lelaki itu?
kenapa terus mengharapkan dengannya?
bukankah akan kecewa berharap pada selainNya?

bukankah ada yang selalu merisaukan kita?
bukankah ada yang selalu mendoakan kita?
bukankah ada yang menunggu kita?
bukankah ada yang ingin selalu bertemu dengan kita?

beliaulah Rasul Muhammad
beliaulah yang yang terpuji di langit dan bumi
beliaulah yang lembut hatinya
beliaulah yang selalu menantikan kita
beliaulah yang menantikan umatnya di telaga Kautsar,untuk memberi minum di Padang Mahsyar

Pengusaha Muslim Yang Sukses

Selasa, 14 Februari 2017

“Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan tersenyum. Ya, menikah dengan wanita Anshar yang jelita dan anggun. Beliau menikahi wanita Anshar setelah sebulan berada di Madinah. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Dari Makkah, beliau hijrah ke Habasyah, lalu kembali ke Makkah, dan pada hijrah yang ke dua dari Makkah ke Madinah. Beliau masuk Islam sejak awal sekali, diajak oleh Abu Bakar, tidak sedikitpun cahaya tertutup darinya, tidak ada keraguan sedikitpun, dan beliaupun dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Tetapi, beliau akan masuk surga dengan merangkak. Siapakah beliau??


Pastilah kita tahu, Abdurrahman bin Auf. Seorang saudagar muslim yang kaya raya. Yang ketika Rasulullah bersabda bahwa beliau akan memasuki surga dengan merangkak, beliau tidak lupa untuk menyedekahkan harta yang dimiliki untuk kepentingan umat. Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya senilai 40 ribu dinar atau setara dengan Rp 42.500.000.000. Uang itu beliau gunakan untuk keluarganya dari keturunan bani Zuhrah, juga kepada Ummul Mukminin dan para fakir miskin. Selain itu, ia pernah menyumbangkan 500 kuda untuk kepentingan pasukan perang. Karena tingginya kedermawanan, ada yang mengatakan, “seluruh penduduk Madinah menikmati kekayaan Abdurrahman bin Auf. Sepertiga kekayaan dipinjamkan kepada mereka. Sepertiga lagi untuk membayar hutang hutang mereka. Sepertiga lagi dibagi bagikannya kepada mereka.” 

Begitulah, Abdurrahman bin Auf, semua kewajiban agama ditunaikan dan sukses di bidang bisnis. Jika tidak sedang shalat di masjid atau berperang, maka ia sibuk dengan bisnis yang sukses. Beliau sendiri pernah berkata, “aku heran terhadap diriku sendiri. Seandainya aku mengangkat batu, di bawahnya aku temukan emas dan perak.” Yang menjadikan bisnis beliau sukses dan berkah adalah karena ia selalu memperhatikan kehalalan bisnisnya. Bahkan, ia tak mau melakukan yang syubhat (tidak jelas halal dan haramnya). 

Pada tahun 32 Hijriah dalam usia 75 tahun, beliau meninggal dunia. Sebelum meninggal, ummul mukminin Aisyah ra menawarkan beliau jika beliau menghendakinya akan dikuburkan di sisi Nabi Muhammad saw, Abu Bakar dan Umar. Namun, dengan suara rendah, beliau menjawab bahwa beliau malu jika diberi kedudukan sedemikian tinggi untuk disejajarkan dengan Rasul. Abdurrahman bin Auf dimakamkan di Baqi dan di sembahyangkan oleh sayyidina Utsman bin Affan, Zubari bin Awwan dan sahabat lainnya.

Abdullah ibn Ummi Maktum

Jumat, 10 Februari 2017



Assalamualaikum,
Saya mau cerita tentang salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. Namanya Abdullah ibn Ummi Maktum. Namanya memang jarang terdengar, tidak seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Khalid bin Walid, dll. Tetapi, saudara/i ku, beliau (Abdullah ibn Ummi Maktum) adalah salah satu sahabat yang kisahnya diabadikan di dalam Al Qur’an.

Taukah kaliaannn?? Hayooo!!
Di postingan sebelumnya saya udah cerita mengenai pentingnya membaca sirah karena berhubungan dengan sebab sebab turunnya ayat di Al Qur’an (Asbabun Nuzul) nah salah satunya tentang Abdullah ibn Ummi Maktum 😊
Nama Abdullah ibn Ummi Maktum diabadikan di dalam Al Qur’an pada surat Abasa yang memiliki arti bermuka masam. Gimana sih ceritanya??? Yuk disimak yaa 😊
Pada suatu waktu, Nabi saw berada di depan para pembesar kaum Quraisy, Nabi saw sangat ingin para pemuka Quraisy tersebut menerima dakwah yang beliau sampaikan. Kenapa begitu?? Karena seperti yang kita ketahui zaman dulu di Arab banyak suku, banyak kabilah, dimana para petinggi kabilah merupakan pemimpin kaumnya. Kembali ke Abdullah ibn Ummi Maktum. Jadi pas Rasulullah saw berdakwah di hadapan pada pemimpin Quraisy, datanglah Abdullah ibn Ummi Maktum, dimana kedatangannya itu buat Rasul tuh seperti gangguan kecil bagi ambisi beliau. Kehadiran Abdullah ibn Ummi Maktum seolah menjadi citra atau kesan bahwa pengingkut agama Muhammad adalah kaum dhu’afa, lemah dan miskin. Oleh karena itu, beliau saw bermuka masam. Lalu, Allah swt menegur beliau saw melalui turunnya wahyu : 

“Dia bermuka masam dan berpaling. Karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah ibn Ummi Maktum)”. QS. Abasa : 1 – 2.

Well, dari ayat tersebut kita tau bahwa Abdullah ibn Ummi Maktum BUTA!!!!! Memang Abdullah ibn Ummi Maktum tidak bisa melihat bahwa Rasulullah bermuka masam padanya, tetapi Allah swt menegur Nabinya. Nabi kan juga manusia kaya kita 😊.
Sebenarnya, keinginan Rasulullah saw untuk mendakwahkan Islam pada pemuka Quraisy tidak salah, tapi kehadiran Abdullah ibn Maktum tidak tepat situasinya. Lalu, Nabi Muhammad saw pun sadar bahwa dakwah ini milik Allah, tugasnya adalah menyampaikan risalah Allah kepada semua umat, manusia maupun jin. Beliau tidak boleh membeda bedakan sikap pada manusia disebabkan kedudukan atau kekayaan.
Dari kejadian ini, Nabi Muhammad saw selalu mengingatnya walaupun kejadian ini sudah lama terjadi. Pernah suatu ketika Abdullah ibn Ummi Maktum datang ke majelis Nabawi dan Nabi saw menyambutnya dengan hangat “Selamat Datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku”. Nabi saw tersenyum dan Abdullah ibn Ummi Maktum pun tersipu malu.
Begitulah Rasulullah, selalu membuat kita merasa special (bukan martabak ya!), begitulah yang disampaikan oleh Amr bin Al Ash (dalam cerita yang berbeda yaa) 😊

Wassalamualaikum. 

Sang Wanita Malam

Selasa, 07 Februari 2017

Wanita Malam Dulu Dan Sekarang

 

Pergeseran moral telah mempengaruhi istilah, sekarang wanita yang menjual kehormatan dibilang wanita malam. Ya… wanita malam yang menjual diri.

Tapi beda dulu dengan sekarang, dahulu wanita malam adalah gelaran yang sangat terpuji karena khusyuknya ibadah dimalam hari. Lihatlah seperti kisah Istri Hubaib Abu Muhammad Al-Farasy seorang nisaul lail yang biasa begadang dimalam hari.
Al-Husain bin ‘Abdirrahman berkata: “Sebagian Sahabat kami bercerita kepadaku, ia mengatakan: ‘Isteri Hubaib, yakni Ummu Muhammad mengatakan bahwa ia terjaga pada suatu malam sedangkan suaminya tidur, lalu ia membangunkannya pada waktu sahur seraya mengatakan, ‘Bangunlah wahai Hubaib suamiku, sebab malam telah berlalu dan siang pun tiba, sedangkan di hadapanmu ada jalan yang panjang dan perbekalan yang sedikit. Para kafilah orang-orang shalih di depan kita, sedangkan kita di belakang.’”Shifatush Shafwah (IV/23).

Rekening dan Hotel Atas Nama Utsman bin Affan

Jumat, 03 Februari 2017

Assalamualaikum wr wb

WAQAF SHADAQAH JARIYAH MILIK UTSMAN BIN AFFAN DI MADINAH

Waqaf ini berupa bangunan hotel yang disewakan..


Apakah Anda tahu kalau sahabat nabi khalifah Utsman bin Affan adalah seorang  pebisnis yang kaya raya, namun mempunyai sifat murah hati dan dermawan. Dan ternyata beliau radhiallahu ‘anhu sampai saat ini memiliki rekening di salah satu bank di Saudi, bahkan rekening dan tagihan listriknya juga masih atas nama beliau.
Bagaimana ceritanya sehingga beliau memiliki hotel atas namanya di dekat Masjid Nabawi..??
Diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kota Madinah pernah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih. Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Mekah. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, SUMUR RAUMAH namanya. Rasanya pun mirip dengan sumur zam-zam. Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut.
Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda : “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).
Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi. Walau sudah diberi penawaran yang tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya, “Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari” demikian Yahudi tersebut menjelaskan alasan penolakannya.
Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu” Utsman, melancarkan jurus negosiasinya.
“Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan.
“Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?” jelas Utsman.
Yahudi itupun berfikir cepat,”… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.
Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka GRATIS karena hari ini sumur Raumah adalah miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.
Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumahpun menjadi milik Utsman secara penuh.
Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sumur Raumah, sejak itu sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya.
Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin… dan setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.
Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke pasar-pasar, setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin, sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian.
wakaf sahabat usman
Begitulah seterusnya, hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel yang cukup besar di salah satu tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi.
Bangunan hotel itu sudah pada tahap penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel bintang 5. Diperkirakan omsetnya sekitar RS 50 juta per tahun. Setengahnya untuk anak2 yatim dan fakir miskin, dan setengahnya lagi tetap disimpan dan ditabung di bank atas nama Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.
Subhanallah,… Ternyata berdagang dengan Allah selalu menguntungkan dan tidak akan merugi..
Ini adalah salah satu bentuk sadakah jariyah, yang pahalanya selalu mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..
Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]
Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.
Like dan sebarkan, agar manfaat dari informasi ini tidak hanya berhenti pada anda, tapi juga bisa dirasakan oleh orang lain, sekaligus merangkai jaring pahala

Oleh : Ustadz Shalahuddin AR Daeng Nya’la (Diedit dengan penyesuaian bahasa oleh tim KisahMuslim.com)
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS