kenapa terus risau dengan takdirNya jika hingga hari ini masih dapat bernapas
kenapa terus risau dengan takdirNya jika hingga hari ini masih dapat melihat
kenapa terus risau dengan takdirNya jika hingga hari ini masih dapat mendegar
lihatlah bagaimana malam berganti siang, siang berganti malam
hujan berganti panas, panas berganti hujan
tidak kah itu mudah bagiNya?
lalu kenapa harus risau dengan takdirNya?
bukankah semua berjalan dengan kehendakNya?
bukankah semua telah ditentukan dalam kitab Lauh Mahfudz?
lalu kenapa harus risau dengan takdirNya?
untuk kamu, kamu yang disana
kenapa terus risau memikirkan bagaimana dengan lelaki itu?
kenapa terus risau memikirkan bagaimana akhirnya lelaki itu?
kenapa terus mengharapkan dengannya?
bukankah akan kecewa berharap pada selainNya?
bukankah ada yang selalu merisaukan kita?
bukankah ada yang selalu mendoakan kita?
bukankah ada yang menunggu kita?
bukankah ada yang ingin selalu bertemu dengan kita?
beliaulah Rasul Muhammad
beliaulah yang yang terpuji di langit dan bumi
beliaulah yang lembut hatinya
beliaulah yang selalu menantikan kita
beliaulah yang menantikan umatnya di telaga Kautsar,untuk memberi minum di Padang Mahsyar
Merisaukan Takdir
Jumat, 17 Februari 2017
Selasa, 14 Februari 2017
“Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan tersenyum. Ya,
menikah dengan wanita Anshar yang jelita dan anggun. Beliau menikahi wanita
Anshar setelah sebulan berada di Madinah. Maharnya emas seberat biji kurma.
Walimahnya dengan menyembelih domba. Dari Makkah, beliau hijrah ke Habasyah,
lalu kembali ke Makkah, dan pada hijrah yang ke dua dari Makkah ke Madinah.
Beliau masuk Islam sejak awal sekali, diajak oleh Abu Bakar, tidak sedikitpun
cahaya tertutup darinya, tidak ada keraguan sedikitpun, dan beliaupun dijamin
masuk surga oleh Rasulullah. Tetapi, beliau akan masuk surga dengan merangkak.
Siapakah beliau??
Pastilah kita tahu, Abdurrahman bin Auf. Seorang saudagar muslim yang
kaya raya. Yang ketika Rasulullah bersabda bahwa beliau akan memasuki surga
dengan merangkak, beliau tidak lupa untuk menyedekahkan harta yang dimiliki
untuk kepentingan umat. Abdurrahman bin Auf pernah menjual tanahnya senilai 40
ribu dinar atau setara dengan Rp 42.500.000.000. Uang itu beliau gunakan untuk keluarganya
dari keturunan bani Zuhrah, juga kepada Ummul Mukminin dan para fakir miskin.
Selain itu, ia pernah menyumbangkan 500 kuda untuk kepentingan pasukan perang.
Karena tingginya kedermawanan, ada yang mengatakan, “seluruh penduduk Madinah
menikmati kekayaan Abdurrahman bin Auf. Sepertiga kekayaan dipinjamkan kepada
mereka. Sepertiga lagi untuk membayar hutang hutang mereka. Sepertiga lagi
dibagi bagikannya kepada mereka.”
Begitulah, Abdurrahman bin Auf, semua kewajiban agama ditunaikan dan
sukses di bidang bisnis. Jika tidak sedang shalat di masjid atau berperang,
maka ia sibuk dengan bisnis yang sukses. Beliau sendiri pernah berkata, “aku
heran terhadap diriku sendiri. Seandainya aku mengangkat batu, di bawahnya aku
temukan emas dan perak.” Yang menjadikan bisnis beliau sukses dan berkah adalah
karena ia selalu memperhatikan kehalalan bisnisnya. Bahkan, ia tak mau melakukan
yang syubhat (tidak jelas halal dan haramnya).
Pada tahun 32 Hijriah dalam usia 75 tahun, beliau meninggal dunia. Sebelum
meninggal, ummul mukminin Aisyah ra menawarkan beliau jika beliau
menghendakinya akan dikuburkan di sisi Nabi Muhammad saw, Abu Bakar dan Umar. Namun,
dengan suara rendah, beliau menjawab bahwa beliau malu jika diberi kedudukan
sedemikian tinggi untuk disejajarkan dengan Rasul. Abdurrahman bin Auf
dimakamkan di Baqi dan di sembahyangkan oleh sayyidina Utsman bin Affan, Zubari
bin Awwan dan sahabat lainnya.
Jumat, 10 Februari 2017
Assalamualaikum,
Saya mau cerita tentang salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. Namanya
Abdullah ibn Ummi Maktum. Namanya memang jarang terdengar, tidak seperti Abu
Bakar, Umar, Utsman, Ali, Khalid bin Walid, dll. Tetapi, saudara/i ku, beliau
(Abdullah ibn Ummi Maktum) adalah salah satu sahabat yang kisahnya diabadikan
di dalam Al Qur’an.
Taukah kaliaannn?? Hayooo!!
Di postingan sebelumnya saya udah cerita mengenai pentingnya membaca sirah karena berhubungan dengan sebab sebab turunnya ayat di Al Qur’an (Asbabun
Nuzul) nah salah satunya tentang Abdullah ibn Ummi Maktum 😊
Nama Abdullah ibn Ummi Maktum diabadikan di dalam Al Qur’an pada surat
Abasa yang memiliki arti bermuka masam. Gimana sih ceritanya??? Yuk disimak yaa 😊
Pada suatu waktu, Nabi saw berada di depan para pembesar kaum Quraisy,
Nabi saw sangat ingin para pemuka Quraisy tersebut menerima dakwah yang beliau
sampaikan. Kenapa begitu?? Karena seperti yang kita ketahui zaman dulu di Arab
banyak suku, banyak kabilah, dimana para petinggi kabilah merupakan pemimpin
kaumnya. Kembali ke Abdullah ibn Ummi Maktum. Jadi pas Rasulullah saw berdakwah
di hadapan pada pemimpin Quraisy, datanglah Abdullah ibn Ummi Maktum, dimana
kedatangannya itu buat Rasul tuh seperti gangguan kecil bagi ambisi beliau.
Kehadiran Abdullah ibn Ummi Maktum seolah menjadi citra atau kesan bahwa
pengingkut agama Muhammad adalah kaum dhu’afa, lemah dan miskin. Oleh karena
itu, beliau saw bermuka masam. Lalu, Allah swt menegur beliau saw melalui
turunnya wahyu :
“Dia bermuka masam dan berpaling. Karena seorang buta telah datang
kepadanya (Abdullah ibn Ummi Maktum)”. QS. Abasa : 1 – 2.
Well, dari ayat tersebut kita tau bahwa Abdullah ibn Ummi Maktum
BUTA!!!!! Memang Abdullah ibn Ummi Maktum tidak bisa melihat bahwa Rasulullah
bermuka masam padanya, tetapi Allah swt menegur Nabinya. Nabi kan juga manusia
kaya kita 😊.
Sebenarnya, keinginan Rasulullah saw untuk mendakwahkan Islam pada
pemuka Quraisy tidak salah, tapi kehadiran Abdullah ibn Maktum tidak tepat
situasinya. Lalu, Nabi Muhammad saw pun sadar bahwa dakwah ini milik Allah,
tugasnya adalah menyampaikan risalah Allah kepada semua umat, manusia maupun
jin. Beliau tidak boleh membeda bedakan sikap pada manusia disebabkan kedudukan
atau kekayaan.
Dari kejadian ini, Nabi Muhammad saw selalu mengingatnya walaupun
kejadian ini sudah lama terjadi. Pernah suatu ketika Abdullah ibn Ummi Maktum
datang ke majelis Nabawi dan Nabi saw menyambutnya dengan hangat “Selamat
Datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku”. Nabi saw tersenyum
dan Abdullah ibn Ummi Maktum pun tersipu malu.
Begitulah Rasulullah, selalu membuat kita merasa special (bukan martabak
ya!), begitulah yang disampaikan oleh Amr bin Al Ash (dalam cerita yang berbeda
yaa) 😊
Wassalamualaikum.
Selasa, 07 Februari 2017
Wanita Malam Dulu Dan Sekarang
Pergeseran moral telah mempengaruhi istilah, sekarang wanita yang
menjual kehormatan dibilang wanita malam. Ya… wanita malam yang menjual
diri.
Tapi beda dulu dengan sekarang, dahulu wanita
malam adalah gelaran yang sangat terpuji karena khusyuknya ibadah
dimalam hari. Lihatlah seperti kisah Istri Hubaib Abu Muhammad Al-Farasy
seorang nisaul lail yang biasa begadang dimalam hari.
Al-Husain bin ‘Abdirrahman berkata: “Sebagian
Sahabat kami bercerita kepadaku, ia mengatakan: ‘Isteri Hubaib, yakni
Ummu Muhammad mengatakan bahwa ia terjaga pada suatu malam sedangkan
suaminya tidur, lalu ia membangunkannya pada waktu sahur seraya
mengatakan, ‘Bangunlah wahai Hubaib suamiku, sebab malam telah berlalu
dan siang pun tiba, sedangkan di hadapanmu ada jalan yang panjang dan
perbekalan yang sedikit. Para kafilah orang-orang shalih di depan kita,
sedangkan kita di belakang.’”Shifatush Shafwah (IV/23).
Jumat, 03 Februari 2017
Assalamualaikum wr wb
Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin… dan setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.
Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
WAQAF SHADAQAH JARIYAH MILIK UTSMAN BIN AFFAN DI MADINAH
Waqaf ini berupa bangunan hotel yang disewakan..
Apakah Anda tahu kalau sahabat nabi khalifah
Utsman bin Affan adalah seorang pebisnis yang kaya raya, namun
mempunyai sifat murah hati dan dermawan. Dan ternyata beliau radhiallahu ‘anhu
sampai saat ini memiliki rekening di salah satu bank di Saudi, bahkan
rekening dan tagihan listriknya juga masih atas nama beliau.
Bagaimana ceritanya sehingga beliau memiliki hotel atas namanya di dekat Masjid Nabawi..??
Diriwayatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
kota Madinah pernah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih.
Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Mekah. Satu-satunya sumber air yang tersisa adalah sebuah sumur milik seorang Yahudi, SUMUR RAUMAH namanya. Rasanya pun mirip dengan sumur zam-zam. Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela antri dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut.
Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda : “Wahai
Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk
dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka
akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).
Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu
yang kemudian segera bergerak untuk membebaskan sumur Raumah itu.
Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli
sumur Raumah dengan harga yang tinggi. Walau sudah diberi penawaran yang
tertinggi sekalipun Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya,
“Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak
memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari” demikian Yahudi
tersebut menjelaskan alasan penolakannya.
Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala berupa Surga Allah Ta’ala, tidak kehilangan cara mengatasi penolakan Yahudi ini.
“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu” Utsman, melancarkan jurus negosiasinya.
“Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan.
“Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?” jelas Utsman.
“Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan.
“Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?” jelas Utsman.
Yahudi itupun berfikir cepat,”… saya
mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur
milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan
disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.
Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk
Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air
untuk kebutuhan mereka GRATIS karena hari ini sumur Raumah adalah
miliknya. Seraya ia mengingatkan agar penduduk Madinah mengambil air
dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu bukan
lagi milik Utsman.
Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya
sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di
rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman belilah
setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli
setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000
dirham, maka sumur Raumahpun menjadi milik Utsman secara penuh.
Kemudian Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mewakafkan sumur Raumah, sejak itu sumur Raumah dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya.Setelah sumur itu diwakafkan untuk kaum muslimin… dan setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah. Lalu Daulah Utsmaniyah memeliharanya hingga semakin berkembang, lalu disusul juga dipelihara oleh Pemerintah Saudi, hingga berjumlah 1550 pohon.
Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini
Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke pasar-pasar,
setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir
miskin, sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening
khusus milik beliau di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departeman Pertanian.
Begitulah seterusnya, hingga uang yang ada di bank itu cukup untuk
membeli sebidang tanah dan membangun hotel yang cukup besar di salah
satu tempat yang strategis dekat Masjid Nabawi.
Bangunan hotel itu sudah pada tahap
penyelesaian dan akan disewakan sebagai hotel bintang 5. Diperkirakan
omsetnya sekitar RS 50 juta per tahun. Setengahnya untuk anak2 yatim dan
fakir miskin, dan setengahnya lagi tetap disimpan dan ditabung di bank
atas nama Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.
Subhanallah,… Ternyata berdagang dengan Allah selalu menguntungkan dan tidak akan merugi..
Ini adalah salah satu bentuk sadakah jariyah, yang pahalanya selalu mengalir, walaupun orangnya sudah lama meninggal..
Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ
عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya,
kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau
anak shaleh yang mendoakannya”. [HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i]Dan disebutkan pada hadits yang lain riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ
مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ
وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا
بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ
أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ
يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan
seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu
yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya,
mush-haf yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu
sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau
shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa
hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia”.
Like dan sebarkan, agar manfaat dari informasi
ini tidak hanya berhenti pada anda, tapi juga bisa dirasakan oleh orang
lain, sekaligus merangkai jaring pahala
Oleh : Ustadz Shalahuddin AR Daeng Nya’la (Diedit dengan penyesuaian bahasa oleh tim KisahMuslim.com)
Kamis, 02 Februari 2017
Assalamualaikum,
Rasulullah ﷺ memiliki beberapa sahabat yang menjadi pembantu beliau. Mengerjakan beberapa pekerjaan yang meringankan kesibukan beliau sebagai seorang pimpinan agama dan negara. Di antara pembantu beliau adalah Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu.
Pertama: Perhatian dan kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya. Terlebih mereka yang miskin. Inilah sifat beliau ﷺ yang Allah ﷻ puji dalam Alquran.
Rasulullah ﷺ memiliki beberapa sahabat yang menjadi pembantu beliau. Mengerjakan beberapa pekerjaan yang meringankan kesibukan beliau sebagai seorang pimpinan agama dan negara. Di antara pembantu beliau adalah Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu.
Rasulullah ﷺ adalah sosok penyayang dan
perhatian. Beliau memperhatikan keadaan sahabat-sahabatnya. Membantu
mereka yang kekurangan. Menjenguk yang sakit. Dan memberi masukan untuk
kebaikan dunia dan akhirat mereka. Perhatian serupa beliau berikan juga
pada Rabi’ah bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Rabi’ah bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu bercerita:
Aku adalah seorang yang membantu Nabi ﷺ. Beliau berkata padaku, “Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”
“Demi Allah, wahai Rasulullah, aku belum ingin
menikah. Aku tak punya sesuatu yang bisa menanggung seorang wanita.
Selain itu, aku tak ingin ada hal yang membuatku sibuk dari
melayanimu.”, jawabku.
Kemudian Nabi ﷺ pun berlalu. Aku kembali melayani beliau seperti biasa.
Pada kesempatan berikutnya, beliau bertanya untuk kali kedua, “Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”
“Aku belum ingin menikah. Aku tak punya sesuatu
yang bisa menanggung seorang wanita. Selain itu, aku tak ingin ada
sesuatu yang membuatku sibuk dari melayanimu.”, jawabku. Rabi’ah belum
mengubah pendiriannya.
Nabi ﷺ pun berlalu. Kali ini aku merenungi
diriku. “Demi Allah, sungguh Rasulullah ﷺ tahu sesuatu yang terbaik
untuk kehidupan duniaku dan akhiratku. Dia lebih tahu dari diriku. Demi
Allah. seandainya ia kembali bertanya tentang menikah, akan kukatakan
kepadanya, ‘Iya Rasulullah, perintahkanlah aku dengan sesuatu yang
engkau kehendaki’.” Gumam Rabi’ah.
Kemudian Rasulullah kembali bertanya, “Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”
“Tentu mau, perintahkan aku dengan apa yang Anda kehendaki.”, jawabku.
Beliau memerintahkan, “Pergilah ke keluarga Fulan. Suatu kampung dari
kalangan Anshar.” Mereka lambat menunaikan perintah Nabi ﷺ. “Katakan
pada mereka, Rasulullah ﷺ mengutusku kepada kalian. Dia memerintahkan
agar kalian menikahkanku dengan Fulanah -salah seorang wanita dari
kalangan mereka-.”
Aku pun pergi. Dan kusampaikan kepada mereka
bahwa Rasulullah ﷺ mengutusku kepada kalian. Beliau memerintahkan agar
kalian menikahkanku dengan Fulanah. Mereka menjawab, “Selamat datang
kepada Rasulullah dan utusannya Rasulullah ﷺ. Demi Allah, utusannya
Rasulullah ﷺ tidak akan pulang kecuali keperluannya telah terpenuhi.”
Mereka menikahkanku dan bersikap lemah lembut
terhadapku. Mereka sama sekali tidak minta penjelasan padaku. Kemudian
aku kembali menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan haru. Beliau bertanya,
“Apa yang terjadi padamu wahai Rabi’ah?”
“Wahai Rasulullah, aku menemui suatu kaum yang
mulia. Mereka menikahkanku, memuliakanku, dan bersikap baik kepadaku.
Mereka sama sekali tidak meminta bukti. Hanya sayangnya, aku tidak
memiliki mas kawin.”, jawabku.
Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai Buraidah al-Aslami, kumpulkan untuknya sebiji emas.”
Mendengar hal itu, para sahabat mengumpulkan
biji emas untukku. Kuambil apa yang telah mereka kumpulkan. Kemudian aku
kembali menghadap Nabi ﷺ. Beliau berkata, ‘Pergilah kepada mereka
dengan membawa ini. Katakan! ini adalah mas kawinnya’. Aku berangkat
menemui mereka dan kukatakan, “Ini mas kawinnya”. Mereka pun ridha dan
menerimanya. “Mas kawin seperti ini sudah sangat banyak dan baik
sekali”, kata mereka.
Rabi’ah al-Aslami radhiallahu ‘anhu melanjutkan:
Lalu aku pulang menemui Nabi ﷺ dalam keadaan sedih. Beliau bertanya, “Wahai Rabi’ah kenapa kamu bersedih?”
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tak pernah
melihat kaum yang lebih mulia dari mereka. Mereka rela dengan apa yang
kuberikan dan berlaku sangat baik. Kata mereka, ini sangat banyak dan
bagus. Hanya sayang, aku tak punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk
mengadakan walimah. Beliau bersabda, “Wahai Buraidah, tolong kumpulkan
kambing untuknya”.
Lalu mereka mengumpulkan kambing yang banyak dan gemuk. Setelah itu,
Rasulullah ﷺ berkata padaku “Pergilah dan temuilah Aisyah dan katakan
padanya agar dia mengirim beberapa keranjang berisi makanan”. Aku pun
menemuinya dan kukatakan padanya segala yang Rasulullah ﷺ perintahkan
padaku.
Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha
mengatakan, “Ini keranjang berisi sembilan sha’ gandum. Demi Allah,
jika besok ada makanan lain, ambillah.” Kuambil makanan itu dan kubawa
menuju Nabi ﷺ. Ku-kabarkan pada beliau apa yang dikatakan Aisyah. Lalu
beliau bersabda, “Bawalah barang-barang ini ke sana, dan katakan pada
mereka agar mereka gunakan untuk membuat roti”. Aku berangkat ke sana.
Membawa kambing dan berangkat bersama beberapa orang dari Aslam.
Seorang dari Aslam berkata, “Tolong besok
barang-barang ini telah diolah menjadi roti”. Bersama beberapa orang
Aslam, kutemui mereka dan kubawakan kambing. Salah seorang dari Aslam
mengatakan “Tolong besok gandum ini diolah menjadi roti, dan kambing ini
telah dimasak”.
Mereka menjawab, “Untuk membuat roti, cukuplah
kami saja. Tapi untuk menyembelih kambing, kalianlah yang
mengerjakannya”. Segera kami ambil kambing yang ada. Kami semebelih,
lalu kami bersihkan. Kemudian memasaknya. Akhirnya tersedialah daging
dan roti. Aku mengadakan walimah dengan mengundang Rasulullah ﷺ. Beliau
pu memenuhi undanganku.
Pelajaran:Pertama: Perhatian dan kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya. Terlebih mereka yang miskin. Inilah sifat beliau ﷺ yang Allah ﷻ puji dalam Alquran.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul
dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS:At-Taubah | Ayat: 128).
Kedua: Nabi ﷺ memiliki tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggungannya.
Ketiga: Nabi ﷺ pandai membaca kondisi. Beliau ﷺ tahu apa yang terbaik dan yang dibutuhkan oleh orang lain.
Keempat: Nabi ﷺ tahu hal apa
yang terbaik bagi dunia dan akhirat sahabatnya. Demikian juga untuk
umatnya. Sehingga ketika kita tahu Nabi ﷺ memerintahkan kita pada suatu
perkara, yakinlah! hal itu yang terbaik untuk kita. Walaupun kadang
bertentangan dengan keinginan dan nafsu kita.
Kelima: Perhatikanlah bagaimana respon orang-orang
yang beriman terhadap perintah Rasulullah ﷺ. Keluarga perempuan yang
ditemui Rabi’ah begitu cepat menerima perintah Nabi ﷺ, tanpa menanyakan
apapun. Syaikh Muhammad bin Nashir as-Suhaibani hafizhahullah
mengatakan, “Mereka disebut lambat menunaikan perintah Nabi karena rumah
mereka yang jauh dari Nabi. Atau mereka jarang bertemu Nabi.”
Keenam: Rasa persaudaraan di
antara para sahabat begitu luar biasa. Persaudaraan yang bukan hanya
sekadar pengakuan. Tapi mereka membuktikannya dengan saling
tolong-menolong. Mereka mengumpulkan mahar dan mempersiapkan logistik
untuk resepsi pernikahan Rabi’ah. Inilah gambaran masyarakat Madinah
kala itu.
Ketujuh: Rasulullah ﷺ mengenal
dengan baik pribadi Rabi’ah. Dan beliau juga mengetahui pribadi
perempuan itu. Sehingga keduanya beliau anggap cocok. Sehingga
pernikahan itu maslahat untuk keduanya.
Kedelapan: Rabi’ah menunda
nikah karena ‘asyik’ dengan kegiatannya saat itu. Ia tidak mau ada hal
yang menyibukkannya sehingga mengganggu ibadahnya. Yakni melayani
Rasulullah ﷺ.
Kesembilan: Jika Anda benar-benar memahami hakikat menikah. Tanggung jawab dan konsekuensinya, maka menikah adalah solusi. Allahu A’lam..
Sumber:
Musnad Imam Ahmad.
Musnad Imam Ahmad.
Langganan:
Postingan (Atom)









