Assalamualaikum Wr Wb
Sekarang ini lagi nge-trend yang namanya viral. Viral itu apa sih?
Viral berasal dari dua kata bahasa inggris, yaitu virus dan virtual. Virus seperti yang kita ketahui yaitu penyakit, sedangkan virtual yaitu tidak nyata, penyebaran informasi melalui dunia maya. Jadi viral adalah penyebaran informasi melalui dunia maya, dimana penyebarannya ini seperti virus, menyebar dengan cepat, kaya virus zombie gitu hehe 😃.
Untuk menjadi viral kadang kita berfoto di tempat ekstrim atau di tempat yang bagus gitu ya, atau kalo ga kita nulis nulis sesuatu gitu di media sosial kita. Terus banyak yang ngelike, banyak yang membagikannya lagi gitu kan ya. Kalo viral kaya gitu mah udah biasa, viral diantara orang orang aja gitu kan ya, udah gitu viralnya cuma sebentar lagi, udah gitu mending kalo viralnya bermanfaat, malah kadang viralnya tentang aib orang lain, na'uzubillah.
Nah kalo gitu kan udah biasa yah, viral diantara manusia. Gimana kalo sekarang kita menjadi viral di langit?? Waahh keren ga tuh? 😎. Viral di langit?? Gimana caranya? Viral di bumi aja gak, Gimana bisa viral di langit mbaakkk??? 😮😕.
Ah gampang banget caranya...
Caranya dateng aja ke majelis majelis ilmu. KOK?? Kenapa gitu??
Iya ke majelis majelis ilmu. Ke acara acara pengajian gitu, kaya acaranya ust salim a fillah, ust hanan attaki, ust adi hidayat, dan ustad ustad lainnya lah, atau apapun itu yang dimana kita belajar mengenal Allah, mengenal Rasul, dan yang pastinya membuat kita makin bertambah iman dan kebaikan dalam diri.
Tapi sebentar deh mbak, kalo dateng ke acara gitu emang gimana jadi viral? viral di langit maksudnya gimana mbak?
viral di langit itu maksudnya, kita diomongin sama malaikat, didoain sama malaikat, disebut sebut sama Allah. Berdasarkan hadits dari Nabi Muhammad saw :
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)
Nah udah tau kan, kalo kita dateng ke majelis ilmu, di atasnya itu ada malaikat yang mengelilingi kita, dan malaikat akan menyebut nyebut nama kita, bilang ke Allah kalo kita dateng ke majelis, terus secara malaikat itu makhluk Allah yang taat banget, udah pasti apa yang malaikat doain itu pasti diijabah sama Allah. Makanya tuh, kalo ikut majelis ilmu banyak banyakin berdoa.
Udah gitu kalo kita sering ke majelis ilmu, Allah akan ngelike kita juga tuh, diperhatiin sama Allah, disebut sebut sama Allah. Kalo kata Nabi Muhammad saw, kalo Allah udah suka sama orang, namanya itu disebut sebut. Jadi nanti Allah panggil Jibril, lalu Jibril pun mendatangi Allah, dan Allah bilang kalo Allah suka sama orang itu. Udah gitu, kalo Allah mencintai orang tersebut, pasti Jibril pun mengikuti, dan Jibril itu pimpinan para malaikat, udah pasti malaikat malaikat juga mengikuti dan turun ke bumi dan bilang ke seluruh makluk hidup yang ada di bumi ini, kecuali jin dan manusia, untuk mencintai orang tersebut, bahkan ikan yang di lautanpun ikut mendoakan. Masya Allah banget kan ya. Ga rugi banget kan ya jadi viral di langit? Bedanya sama viral di dunia apa? Kalo di dunia mah ga ada untungnya yah, abis itu ilang, gitu aja, udah gitu ga dapet pahala lagi kalo viralnya itu yang membuka aib. Na'uzubillah.
Udah waktu istirahat, udah gitu aja dulu hihi.
Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum. Wr. Wb
Menjadi Viral Di Langit
Jumat, 19 Mei 2017
Senin, 01 Mei 2017
"Aku belum bisa memperjuangkanmu", begitu kata lelaki itu.
Aku membaca pesan singkat tersebut dengan nada yang bisa dibilang kecewa. Menurutku, itu bukan alasan karena masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih sulit keadaannya. Entah itu keuangan atau restu orang tua. Aku menatap layar handphoneku kosong.
"Baiklah, kalau begitu tidak akan berbicara panjang lebar padanya karena aku tahu apa yang akan kubicarakan akan mengundang kekesalannya dan tidak akan mengubah apapun jadi lebih baik kuputuskan untuk mengalah" begitu kataku dalam hati.
Ya, aku ingin benar benar mengalah, mengalah dari semua ketidakpastian, mengalah untuk menjadi lebih baik. Aku tahu memang tidak mudah, tapi sudah kubulatkan tekadku, untuk berjuang sendirian. Aku sadar mungkin aku yang tidak pantas untuk diperjuangkan atau kau belum yakin. Tak apa, karena aku yakin inilah jalan yang Tuhan tunjukkan untukku. Jalan dimana mungkin menjadikan aku lebih sabar menanti janjiNya karena aku tahu Dia tidak pernah mengingkari janji.
Aku tahu di depan mungkin aku sulit untuk melupakanmu, melepasmu, tapi aku juga sadar buat apa mempertahankan sesuatu yang memang kau sendiri tidak tahu ujungnya. Bukan tak mau menunggu, tapi menunggu itu gerbang pintu untuk setan masuk, menyelimuti indah apa yang kita anggap suci.
Pernikahan. Satu kata yang memang terdengar indah. Tapi, di dalamnya begitu banyak perjuangan dan tanggung jawab. Perjuangan untuk meyakinkan orang tua, perjuangan untuk mahar, perjuangan untuk menjadi imam atau makmum yang baik, perjuangan untuk tetap saling mendukung hingga hidup berakhir, dan yang lebih penting lagi, tanggung jawab di hadapan Allah. Karena pada ijab qabul adanya penyerahan tanggung jawab yang besar dari seorang ayah kepada calon suami. Dimana, penyerahan tanggung jawab itu disebutkan di dalam Al Qur'an sebagai mitsaqan ghaliza atau perjanjian yang kuat. Perjanjian yang kuat, di dalam Al Qur'an sendiri Allah hanya menyebutkan ada 3 janji yang kuat, diantaranya janji Rasul kepada Allah, janji kaum Nabi Musa kepada Allah, dan yang terakhir janji antara calon suami dengan Allah.
Aku tahu, pernikahan itu berat bagimu dan kau belum siap. Namun, perlu kau ketahui, setiap orang jika ditanya siap atau tidak, pasti semua menjawab tidak siap. Tapi bukankah Allah berjanji untuk memberi kemudahan bagi seseorang yang ingin menikah?? Bukankah yang memberi rizki kepada istrimu itu Allah? Tidakkah kau yakini itu?
Maafkan aku, inilah proses yang ingin kuberhentikan malam ini. Sudah cukup untuk jatuh dan terbangun. Aku tahu akan berat prosesnya karena melawan rasa rindu dan takut kehilangan. Semoga tidak ada lagi jatuh tanpa tangan yang sanggup membuatku berdiri. Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, kata kata yang tak pantas kuucapkan, atas amarah yang belum berhak kulakukan. Semoga ampunan Allah tercurah padaku dan padamu.
Aku membaca pesan singkat tersebut dengan nada yang bisa dibilang kecewa. Menurutku, itu bukan alasan karena masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih sulit keadaannya. Entah itu keuangan atau restu orang tua. Aku menatap layar handphoneku kosong.
"Baiklah, kalau begitu tidak akan berbicara panjang lebar padanya karena aku tahu apa yang akan kubicarakan akan mengundang kekesalannya dan tidak akan mengubah apapun jadi lebih baik kuputuskan untuk mengalah" begitu kataku dalam hati.
Ya, aku ingin benar benar mengalah, mengalah dari semua ketidakpastian, mengalah untuk menjadi lebih baik. Aku tahu memang tidak mudah, tapi sudah kubulatkan tekadku, untuk berjuang sendirian. Aku sadar mungkin aku yang tidak pantas untuk diperjuangkan atau kau belum yakin. Tak apa, karena aku yakin inilah jalan yang Tuhan tunjukkan untukku. Jalan dimana mungkin menjadikan aku lebih sabar menanti janjiNya karena aku tahu Dia tidak pernah mengingkari janji.
Aku tahu di depan mungkin aku sulit untuk melupakanmu, melepasmu, tapi aku juga sadar buat apa mempertahankan sesuatu yang memang kau sendiri tidak tahu ujungnya. Bukan tak mau menunggu, tapi menunggu itu gerbang pintu untuk setan masuk, menyelimuti indah apa yang kita anggap suci.
Pernikahan. Satu kata yang memang terdengar indah. Tapi, di dalamnya begitu banyak perjuangan dan tanggung jawab. Perjuangan untuk meyakinkan orang tua, perjuangan untuk mahar, perjuangan untuk menjadi imam atau makmum yang baik, perjuangan untuk tetap saling mendukung hingga hidup berakhir, dan yang lebih penting lagi, tanggung jawab di hadapan Allah. Karena pada ijab qabul adanya penyerahan tanggung jawab yang besar dari seorang ayah kepada calon suami. Dimana, penyerahan tanggung jawab itu disebutkan di dalam Al Qur'an sebagai mitsaqan ghaliza atau perjanjian yang kuat. Perjanjian yang kuat, di dalam Al Qur'an sendiri Allah hanya menyebutkan ada 3 janji yang kuat, diantaranya janji Rasul kepada Allah, janji kaum Nabi Musa kepada Allah, dan yang terakhir janji antara calon suami dengan Allah.
Aku tahu, pernikahan itu berat bagimu dan kau belum siap. Namun, perlu kau ketahui, setiap orang jika ditanya siap atau tidak, pasti semua menjawab tidak siap. Tapi bukankah Allah berjanji untuk memberi kemudahan bagi seseorang yang ingin menikah?? Bukankah yang memberi rizki kepada istrimu itu Allah? Tidakkah kau yakini itu?
Maafkan aku, inilah proses yang ingin kuberhentikan malam ini. Sudah cukup untuk jatuh dan terbangun. Aku tahu akan berat prosesnya karena melawan rasa rindu dan takut kehilangan. Semoga tidak ada lagi jatuh tanpa tangan yang sanggup membuatku berdiri. Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, kata kata yang tak pantas kuucapkan, atas amarah yang belum berhak kulakukan. Semoga ampunan Allah tercurah padaku dan padamu.
Langganan:
Postingan (Atom)






