Assalamualaikum,
Saya mau cerita tentang salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. Namanya
Abdullah ibn Ummi Maktum. Namanya memang jarang terdengar, tidak seperti Abu
Bakar, Umar, Utsman, Ali, Khalid bin Walid, dll. Tetapi, saudara/i ku, beliau
(Abdullah ibn Ummi Maktum) adalah salah satu sahabat yang kisahnya diabadikan
di dalam Al Qur’an.
Taukah kaliaannn?? Hayooo!!
Di postingan sebelumnya saya udah cerita mengenai pentingnya membaca sirah karena berhubungan dengan sebab sebab turunnya ayat di Al Qur’an (Asbabun
Nuzul) nah salah satunya tentang Abdullah ibn Ummi Maktum 😊
Nama Abdullah ibn Ummi Maktum diabadikan di dalam Al Qur’an pada surat
Abasa yang memiliki arti bermuka masam. Gimana sih ceritanya??? Yuk disimak yaa 😊
Pada suatu waktu, Nabi saw berada di depan para pembesar kaum Quraisy,
Nabi saw sangat ingin para pemuka Quraisy tersebut menerima dakwah yang beliau
sampaikan. Kenapa begitu?? Karena seperti yang kita ketahui zaman dulu di Arab
banyak suku, banyak kabilah, dimana para petinggi kabilah merupakan pemimpin
kaumnya. Kembali ke Abdullah ibn Ummi Maktum. Jadi pas Rasulullah saw berdakwah
di hadapan pada pemimpin Quraisy, datanglah Abdullah ibn Ummi Maktum, dimana
kedatangannya itu buat Rasul tuh seperti gangguan kecil bagi ambisi beliau.
Kehadiran Abdullah ibn Ummi Maktum seolah menjadi citra atau kesan bahwa
pengingkut agama Muhammad adalah kaum dhu’afa, lemah dan miskin. Oleh karena
itu, beliau saw bermuka masam. Lalu, Allah swt menegur beliau saw melalui
turunnya wahyu :
“Dia bermuka masam dan berpaling. Karena seorang buta telah datang
kepadanya (Abdullah ibn Ummi Maktum)”. QS. Abasa : 1 – 2.
Well, dari ayat tersebut kita tau bahwa Abdullah ibn Ummi Maktum
BUTA!!!!! Memang Abdullah ibn Ummi Maktum tidak bisa melihat bahwa Rasulullah
bermuka masam padanya, tetapi Allah swt menegur Nabinya. Nabi kan juga manusia
kaya kita 😊.
Sebenarnya, keinginan Rasulullah saw untuk mendakwahkan Islam pada
pemuka Quraisy tidak salah, tapi kehadiran Abdullah ibn Maktum tidak tepat
situasinya. Lalu, Nabi Muhammad saw pun sadar bahwa dakwah ini milik Allah,
tugasnya adalah menyampaikan risalah Allah kepada semua umat, manusia maupun
jin. Beliau tidak boleh membeda bedakan sikap pada manusia disebabkan kedudukan
atau kekayaan.
Dari kejadian ini, Nabi Muhammad saw selalu mengingatnya walaupun
kejadian ini sudah lama terjadi. Pernah suatu ketika Abdullah ibn Ummi Maktum
datang ke majelis Nabawi dan Nabi saw menyambutnya dengan hangat “Selamat
Datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku”. Nabi saw tersenyum
dan Abdullah ibn Ummi Maktum pun tersipu malu.
Begitulah Rasulullah, selalu membuat kita merasa special (bukan martabak
ya!), begitulah yang disampaikan oleh Amr bin Al Ash (dalam cerita yang berbeda
yaa) 😊
Wassalamualaikum.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar