Abdullah ibn Ummi Maktum

Jumat, 10 Februari 2017



Assalamualaikum,
Saya mau cerita tentang salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. Namanya Abdullah ibn Ummi Maktum. Namanya memang jarang terdengar, tidak seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Khalid bin Walid, dll. Tetapi, saudara/i ku, beliau (Abdullah ibn Ummi Maktum) adalah salah satu sahabat yang kisahnya diabadikan di dalam Al Qur’an.

Taukah kaliaannn?? Hayooo!!
Di postingan sebelumnya saya udah cerita mengenai pentingnya membaca sirah karena berhubungan dengan sebab sebab turunnya ayat di Al Qur’an (Asbabun Nuzul) nah salah satunya tentang Abdullah ibn Ummi Maktum 😊
Nama Abdullah ibn Ummi Maktum diabadikan di dalam Al Qur’an pada surat Abasa yang memiliki arti bermuka masam. Gimana sih ceritanya??? Yuk disimak yaa 😊
Pada suatu waktu, Nabi saw berada di depan para pembesar kaum Quraisy, Nabi saw sangat ingin para pemuka Quraisy tersebut menerima dakwah yang beliau sampaikan. Kenapa begitu?? Karena seperti yang kita ketahui zaman dulu di Arab banyak suku, banyak kabilah, dimana para petinggi kabilah merupakan pemimpin kaumnya. Kembali ke Abdullah ibn Ummi Maktum. Jadi pas Rasulullah saw berdakwah di hadapan pada pemimpin Quraisy, datanglah Abdullah ibn Ummi Maktum, dimana kedatangannya itu buat Rasul tuh seperti gangguan kecil bagi ambisi beliau. Kehadiran Abdullah ibn Ummi Maktum seolah menjadi citra atau kesan bahwa pengingkut agama Muhammad adalah kaum dhu’afa, lemah dan miskin. Oleh karena itu, beliau saw bermuka masam. Lalu, Allah swt menegur beliau saw melalui turunnya wahyu : 

“Dia bermuka masam dan berpaling. Karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah ibn Ummi Maktum)”. QS. Abasa : 1 – 2.

Well, dari ayat tersebut kita tau bahwa Abdullah ibn Ummi Maktum BUTA!!!!! Memang Abdullah ibn Ummi Maktum tidak bisa melihat bahwa Rasulullah bermuka masam padanya, tetapi Allah swt menegur Nabinya. Nabi kan juga manusia kaya kita 😊.
Sebenarnya, keinginan Rasulullah saw untuk mendakwahkan Islam pada pemuka Quraisy tidak salah, tapi kehadiran Abdullah ibn Maktum tidak tepat situasinya. Lalu, Nabi Muhammad saw pun sadar bahwa dakwah ini milik Allah, tugasnya adalah menyampaikan risalah Allah kepada semua umat, manusia maupun jin. Beliau tidak boleh membeda bedakan sikap pada manusia disebabkan kedudukan atau kekayaan.
Dari kejadian ini, Nabi Muhammad saw selalu mengingatnya walaupun kejadian ini sudah lama terjadi. Pernah suatu ketika Abdullah ibn Ummi Maktum datang ke majelis Nabawi dan Nabi saw menyambutnya dengan hangat “Selamat Datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku”. Nabi saw tersenyum dan Abdullah ibn Ummi Maktum pun tersipu malu.
Begitulah Rasulullah, selalu membuat kita merasa special (bukan martabak ya!), begitulah yang disampaikan oleh Amr bin Al Ash (dalam cerita yang berbeda yaa) 😊

Wassalamualaikum. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS