Lelaki dan Pembuktian

Senin, 01 Mei 2017

"Aku belum bisa memperjuangkanmu", begitu kata lelaki itu.
Aku membaca pesan singkat tersebut dengan nada yang bisa dibilang kecewa. Menurutku, itu bukan alasan karena masih banyak orang di luar sana yang jauh lebih sulit keadaannya. Entah itu keuangan atau restu orang tua. Aku menatap layar handphoneku kosong.
"Baiklah, kalau begitu tidak akan berbicara panjang lebar padanya karena aku tahu apa yang akan kubicarakan akan mengundang kekesalannya dan tidak akan mengubah apapun jadi lebih baik kuputuskan untuk mengalah" begitu kataku dalam hati.

Ya, aku ingin benar benar mengalah, mengalah dari semua ketidakpastian, mengalah untuk menjadi lebih baik. Aku tahu memang tidak mudah, tapi sudah kubulatkan tekadku, untuk berjuang sendirian. Aku sadar mungkin aku yang tidak pantas untuk diperjuangkan atau kau belum yakin. Tak apa, karena aku yakin inilah jalan yang Tuhan tunjukkan untukku. Jalan dimana mungkin menjadikan aku lebih sabar menanti janjiNya karena aku tahu Dia tidak pernah mengingkari janji.

Aku tahu di depan mungkin aku sulit untuk melupakanmu, melepasmu, tapi aku juga sadar buat apa mempertahankan sesuatu yang memang kau sendiri tidak tahu ujungnya. Bukan tak mau menunggu, tapi menunggu itu gerbang pintu untuk setan masuk, menyelimuti indah apa yang kita anggap suci.

Pernikahan. Satu kata yang memang terdengar indah. Tapi, di dalamnya begitu banyak perjuangan dan tanggung jawab. Perjuangan untuk meyakinkan orang tua, perjuangan untuk mahar, perjuangan untuk menjadi imam atau makmum yang baik, perjuangan untuk tetap saling mendukung hingga hidup berakhir, dan yang lebih penting lagi, tanggung jawab di hadapan Allah. Karena pada ijab qabul adanya penyerahan tanggung jawab yang besar dari seorang ayah kepada calon suami. Dimana, penyerahan tanggung jawab itu disebutkan di dalam Al Qur'an sebagai mitsaqan ghaliza atau perjanjian yang kuat. Perjanjian yang kuat, di dalam Al Qur'an sendiri Allah hanya menyebutkan ada 3 janji yang kuat, diantaranya janji Rasul kepada Allah, janji kaum Nabi Musa kepada Allah, dan yang terakhir janji antara calon suami dengan Allah.

Aku tahu, pernikahan itu berat bagimu dan kau belum siap. Namun, perlu kau ketahui, setiap orang jika ditanya siap atau tidak, pasti semua menjawab tidak siap. Tapi bukankah Allah berjanji untuk memberi kemudahan bagi seseorang yang ingin menikah?? Bukankah yang memberi rizki kepada istrimu itu Allah? Tidakkah kau yakini itu?

Maafkan aku, inilah proses yang ingin kuberhentikan malam ini. Sudah cukup untuk jatuh dan terbangun. Aku tahu akan berat prosesnya karena melawan rasa rindu dan takut kehilangan. Semoga tidak ada lagi jatuh tanpa tangan yang sanggup membuatku berdiri. Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, kata kata yang tak pantas kuucapkan, atas amarah yang belum berhak kulakukan. Semoga ampunan Allah tercurah padaku dan padamu.


2 komentar:

  1. MasyaAllah Ima, semoga diberikan yg terbaik dr Allah 😊

    BalasHapus
  2. Bang Toni : waa nemu aja hehe. aamiin insya allah, makasii bang

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS